SEJARAH FILSAFAT BERDASARKAN KURUN WAKTU (ZAMAN KLASIK-ZAMAN KONTEMPORER)

Sejarah filsafat berdasarkan kurun waktu
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah filsafat pendidikan




Disusun Oleh:
                                 Baedotun Nupus Atulkhariyah ( 2225140953)
                                 Egha Alifa Putra (2225141368)
                                 Iin Winarsih (2225140970)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015






KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur hanyalah milik Allah SWT yang telah melimpahkan ilmu. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasul beserta keluarganya. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Filsafat Ilmu Pendidikan. Makalah ini berjudul “SEJARAH FILSAFAT BERDASARKAN KURUN WAKTU” ini penulis buat dengan tujuan agar pembaca dapat menerima pengetahuan tentang perkembangan filsafat ilmu dari masa ke masa.
Dalam menyusun makalah ini penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan sebab pengetahuan dan pengalaman yang di miliki penulis terbatas ,cukup banyak tantangan dan hambatan yang penulis temukan dalam menyusun makalah ini. Penulis mohon maaf apabila ditemukannya kesalahan. Maka dibutuhkannya kritik dan saran dari pembaca makalah.
Akhir kata ,semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Atas perhatiaannya saya ucapkan terima kasih.


Serang , 27 September 2015

Penulis            


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
1.2  Rumusan Masalah
1.3  Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1  Perkembangan Filsafat Ilmu Pada Zaman Klasik
2.1.1     Ionia Tempat Lahirnya Filsafat Barat.
2.1.1.1     Masa Pra-Sokrates
2.1.1.2     Masa Sokrates
2.1.1.3     Masa hellenisme dan Romawi
2.2   Filsafat abad pertengahan
2.2.1        Masa patristik
2.2.1.1  Gambaran umum
2.2.1.2   Tokoh-tokoh terpenting
2.2.2          Masa skolastik 
2.2.2.1  Gambaran umum
2.2.2.2   Tokoh-tokoh terpenting.
2.3  filsafat modern
2.3.1        Renaissance
2.3.1.1  Filsafat Abad XVII
2.3.1.2  Filsafat Abad XVIII (Aufklaerung)
2.3.1.3  Filsafat Abad XIX
2.4  Filsafat Kontemporer
2.4.1        Pragmatisme
2.4.2        Vitalisme
2.4.3        Fenomenologi
2.4.4        Eksistensialisme
2.4.5        Analitis 
2.4.6        Strukturalisme.
2.4.7        Postmodernisme.

BAB III PENUTUP
3.1  Kesimpulan
3.2  Saran
DAFTAR PUSTAKA 




BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia tidak bisa dilepaskan dari peran ilmu. Bahkan perubahan pola hidup manusia dari waktu ke waktu sesungguhnya berjalan seiring dengan sejarah kemajuan dan perkembangan ilmu. Tahap-tahap perkembangan itu kita menyebut dalam konteks ini sebagai periodesasi sejarah perkembangan ilmu sejak dari zaman klasik, zaman pertengahan, zaman modern dan zaman kontemporer.
Begitu pula dengan filsafat, dalam perkmbangannya filsafat dibagi menjadi 4 babakan yakni Filsafat klasik meliputi filsafat Yunani dan Romawi pada abad ke-6 SM dan berakhir pada 529 M dominasi oleh rasionalisme. Filsafat abad pertengahan meliputi pemikiran Boethius sampai Nicolaus pada abad ke-6 M dan berakhir pada abad ke-15 M didominasi dengan doktrin-doktrin agama Kristen. Filsafat modern dan filsafat kontemporer yang didominasi kritik terhadap filsafat modern.


1.2  Rumusan Masalah
     Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana perkembangan filsafat ilmu pada zaman klasik?
2.      Bagaimana perkembangan filsafat ilmu pada abad pertengahan?
3.      Bagaimana perkembangan filsafat ilmu pada zaman modern?
4.      Bagaimana perkembangan filsafat ilmu pada zaman kontemporer?

1.3  Tujuan Penulisan Makalah
     Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui perkembangan filsafat ilmu pada zaman klasik
2.      Untuk mengetahui perkembangan filsafat ilmu pada abad pertengahan
3.      Untuk mengetahui perkembangan filsafat ilmu pada zaman modern
4.      Untuk mengetahui perkembangan filsafat ilmu pada zaman kontemporer



BAB II
PEMBAHASAN
    2.1 Perkembangan Filsafat Ilmu Pada Zaman Klasik
2.1.1        Ionia Tempat Lahirnya Filsafat Barat
Tempat filsafat yunani adalah asia kecil, dan filsuf-filsuf pertama yunani berasal dari Ionia. Herodotus berpendapat bahwa agama dan kebudayaan Yunani berasal dari Mesir. Menurut Coppleston sulitlah untuk menjelaskan bahwa para saudagar Mesir mengekspor pemikiran Mesir ke Yunani. Dan menurut Burnet, Mesir tidak memiliki filsafat, sebab itu pendapat bahwa filsafat Yunani berasal dari Mesir sulit diterima. Jadi, filsafat yunani berasal dari yunani sendiri yakni Ionia.
Tapi kenyataan bahwa filsafat yunani berkaitan erat dengan matematika. Coppleston berpendapat Memang ada kemungkinan besar bahwa matematika yunani dipengaruhi Mesir dan astronomi Yunani dipengaruhi Babylon, sebab ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani mulai berkembang di daerah yang merupakan pertemuan barat dan timur. Tapi tidak tepat kalau dikatakan bahwa matematika ilmiah
Matematika Mesir terdiri dari metode-metode empiris, kasar dan lengkap untuk memperoleh hasil praktis. Geometri Mesir umumnya terdiri dari metode-metode praktis untuk mengukur tanah setelah meluapnya sungai Nil. Tapi Mesir tidak mengembangkan geometri ilmiah, Demikian juga astronomi Babylon, sebetulnya merupakan astrologi, yakni ilmu nujum bintang. Sebaliknya orang Yunani mengembangkannya menjadi ilmu astronomi ilmiah. Jadi, menurut Coppleston, matematika dan astronomi Yunani lahir di Yunani sendiri.
Dengan demikian Yunani adalah tempat asal para pemikir dan ilmuan asli Eropa. Orang Yunanilah yang pertama-tama mempelajari ilmu pengetahuan demi ilmu pengetahuan itu sendiri. Mereka mempelajari ilmu pengetahuan dengan semangat ilmiah, bebas dan tanpa prasangka. Hegel, filsuf terkenal Jerman, berpendapat bahwa filsafat Yunani sepenuhnya dilakukan dengan semangat kebebasan ilmiah.
2.1.1.1  Masa Pra-Sokrates
Filsafat di masa Pra-Sokrates merupakan tahap pertama dalam filsafat Yunani. Meskipun bukan merupakan filsafat murni, tetapi ia merupakan filsafat yang sesungguhnya. Sebaliknya, filsafat Pra-Sokrates bukannya merupakan unit tertutup yang tidak berhubungan dengan pemikiran filosofis sesudahnya, tapi merupakan persiapan bagi periode sesudahnya. Meskipun Plato dan Aristoteles mengemukakan filsafat yang brilian, keduanya tidak terlepas dari pengaruh filsafat pra-Sokrates. Plato misalnya, sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Heracleitos, para filsuf Elea dan Pythagoreanisme. Adapun filsuf-filsuf yang hidup sebelum masa Sokrates adalah:



a.       Thales (625-545 SM)
Dalam sejarah filsafat Thales dijuluki sebagai filsuf Yunani pertama. Dia dalah satu dari tujuh orang bijak di zamannya (bersama Bias dari Priene, Pittakos dari Mytilene, Soloon dari Athena, Kleouboulous dari Lindos, Khilon dari Sparta, dan Priandros dari Korinthos). Thales dalah filsuf dan ilmuwan praktis.
Sebagai filsuf Thales dan Miletus berusaha menjawab pertanyaan: apa sala usul segala sesuatu? Menurut Thales, bahan dasar dari segala sesuatu adalah air. Itu merupakan kesimpulan setelah ia mengamati dominasi peran air di alam dan kehidupan manusia. Seperti dikatakan Aristoteles, Thales dari hari ke hari mengamati bahwa kabut member kehidupan bagi segala sesuatu. Bahkan panas itu sendiri berasal dari kelembaban.
Dia juga mengamati bahwa segala macam benih mempunyai kodrat kelembaban, dan air merupakan asal dari hakekat benda-benda yang lembab. Thales mungkin juga dipengaruhi oleh teologi-teologi kuno, di mana air merupakan obyek komando di kalangan dewa-dewi.

b.      Anaximandros (611-545 SM)
Anaximander juga seorang ilmuwan. Konon, menurut Theophrastus, dia membuat sebuah peta, yang mungkin digunakan oleh para pelaut Milesia ke laut hitam. Menurut Theophrastus, Anaximander adalah rekan sejawat Thales, dan nampaknya lebih muda. Di samping kegiatan ilmiahnya, dia juga mencari jawaban atas pertanyaan sama yang menggugah Thales. Tapi menurut dia, prinsip pertama dan utama itu tidak mungkin air seperti yang dikatakan Thales.
Kalau perubahan, kelahiran dan kematian, pertumbuhan dan kehancuran disebabkan oleh konflik, maka tak dapat dijelaskan mengapa ada benda-benda lain yang tidak dapat melebur menjadi air. Maka menurut dia, prinsip pertama dari segala benda adalah to apeiron (yang berarti substansi yang tak terbatas). To apeiron itu kekal dan tak dimakan usia, itulah yang merangkum seluruh jagad.
Anaximander mengajarkan bahwa bumi bukan berbentuk piringan (disc) tapi silinder pendek. Kehidupan berasal dari laut, dan melalui adaptasi dengan lingkunagn bentuk-bentk hewan yang sekarang berevolusi.
Tentang asal usul manusia Anaximander mengatakan bahwa pada mulanya manusia dilahirkan dari hewan-hewan spesies lain. Hewan-hewan lain, katanya, cepat menemukan makanan bagi diri mereka sendiri, tapi manusia sendiri membutuhkan waktu yang panjang untuk menjadi dewasa. Tapi dia tak dapat menjelaskan bagaimana manusia bias hidup dalam tahap transisi.
Jadi, doktrin Anaximander merupakan suatu langkah maju dibandingkan Thales. Dia tidak menunjuk unsure tertentu, tapi konsep to apeiron, yakni substansi tak terbatas.



c.       Anaximenes (588-524 SM)
Menurut Anaximenes, prinsip dasar segala sesuatu adalah udara. Kesimpulan ini mungkin sekali didasarkan pada fakta bahwa manusia hanya bisa hidup kalau bernafas. Jadi, udara adalah prinsip kehidupan. “Sebagaimana halnya dengan jiwa kita, yakni udara, mempersatukan kita, demikian juga nafas dan udara merangkul seluruh dunia,” kata Anaximenes. Jadi udara dalah prinsip dasar (urstoff) dari dunia.
Udara tak dapat dibagi, tapi dapat kelihatan dalam proses kondensasi dan perengangan. Ketika udara menjadi renggang (rarefaction), ia menjadi lebih panas, dan denderung terbakar menjadi api. Sebaliknya, kalau terjadi kondensasi, ia menjadi lebih dingin dan menjadi keras. Maka udara berada di antara cincin nyala dan kedinginan, dengan massa kelembaban di dalamnya.

d.      Pythagoras (580-500 SM)
Tentang Pythagoras tidak banyak diketahui. Yang pasti adalah bahwa Pythagoras mendirikan sebuah tarekat keagamaan di Kroton, Italia selatan, pada paruh kedua abad 6 SM. Pythagoras sendiri dilahirkan di Samos, masih daerah Ionia. Iamblicus, salah satu sumber untuk mengetahui Pythagoras, menyebut Pythagoras antara lain sebagai “pemimpin dan bapak filsafat Ilahi”. Tapi kisah kehidupan Pythagoras seperti yang ditulis Iamblicus, porphyries, dan Diogenes Laertius dinilai sebagai roman dan bukan catata sejarah.
Ajaran tentang bilangan merupaka ajaran Pythagoras yang penting. Tapi, di pihak lain filsafat methematico-metafisik ini sngat sulit dipahami. Yang penting, Pythagoras dan para pengikutnya sangat terobsesi dengan matematika. Sampai-sampai dikatakan bahwa Tuhan itu seorang ahli matematika.
Menurut Pythagoras, prinsip dari segala-galanya adalah matematika. Semua benda dapat dihitung dengan angka, dan kita dapat mengekspresikan banyak hal dengan angka-angka. Mereka terpesona oleh kenyataan bahwa interval-interval music antara dua not pada lyra dapat dinyatakan secara numerik. Seperti halnya harmoni musik bergantung pada angka, maka harmoni jagad raya juga bergantung pada angka. Bahkan menurut Pythagoras, benda-benda adalah angka-angka (things are numbers).
Menurut Pythagoreanisme, pusat jagad raya adalah api (Hestia). Di sekeliling api itu beredar kontra bumi (antikhton), bumi, bulan, matahari dan planet lainnya dan akhirnya langit dengan bintang-bintang tetap. Pythagoreanisme berpandangan bahwa seluruh langit merupakan suatu tangga nada musik serta bilangan. Ketika mengelilingi api sentral tiap benda langit mengeluarkan bunyi yang sesuai dengan tangga nada. Telinga kita sudah terbiasa dengan musik itu, sehinga kita tak mendengarnya lagi. Dikisahkan bahwa Pythagoras sendiri telah mendengar music jagad raya itu.




filsuf-filsuf lain yang hidup sebelum masa Sokrates, di antaranya:
a)      Xenophanes (570-480 SM)
b)      Heracleitos
c)      Parmenides dan Melissus
d)     Zeno
e)      Empedocles
f)       Leocippus
g)      Para filsuf Atomisme

2.1.1.2  Masa Sokrates
Perhatian masa Pra-Sokrates adalah alam atau kosmos. Pada masa sesudahnya, yakni sokrates, perhatian bergeser pada manusia itu sendiri, faktor-faktor penyebabnya anatara lain.
a.       Timbulnya sikap skeptic terhadap filsafat Yunani yang tidak dapat menjelaskan pertanyaan tentang asala usul alam semesta. Filsafat Pra-Sokrates juga tidak mampu menjelaskan fenomena kesatuan (unity) dan kejamakan (diversity)

b.      Semakin besar minat terhadap fenomena kebudayaan dan peradaban. Ini disebabkan pergaulan yang makin gencar antara orang Yunani dan peradaban asing seperti Persia, Babylonia dan Mesir. Menhadapi kenyataan ini, para pemikr Yunani mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah beragam kebudayaan nasional dan local, norma agama dan etis, hanyalah konvensi atau tidak?

·         Kaum Sofis
Ada perbedaan antara filsafat Pra-Sokrates dengan filsafat sesudahnya, perbedaan itu ialah:
a.       Pusat perhatian filsafat masa sokrates adalah manusia, peradaban dan kebiasaab manusia. Sofisme menaruh perhatian pada mikrokosmos, bukan makrokosmos. Manusia mencapai kesadaran diri. Seperti kata Sophocles: “Ada banyak mikjizat di dunia, tapi tak ada mukjizat yang lebih besar dari manusia”.
b.       Sofisme dan filsafat Yunani sebelumnya juga berbeda dalam hal metode. Filsafat Yunani Pra-Sokrates memiliki metode deduktif, sedangkan kaum sofis menggunakan metode empirico-induktif.
Pada masa Pra-Sokrates, filsuf menetpkan prinsip umum, kemudian menjelaskan fenomena fenomena khusus berdasarkan prinsip tersebut. Sebaliknya, kaum sofis adalah ensiklopedis karena mereka menghimpun banyak observasi dan fakta, lalu menarik kesimpulan-kesimpulan, baik teoritis maupun praktis. Kesimpulan-kesimpulan itu sangat banyak dan berbeda sehingga orang bias jadi bingung. Atau, setelah banyak tahu tentang berbagi negara dan kebudayaan, mereka membuat teori tentang asal-usul peradaban atau asal bahasa.
c.       Perbedaan juga terletak pada tujuan. Filsafat Pra-Sokrates ingin mencari kebenaran obyektif tentang dunia. Kaum sofis mencari kebenaran praktis, bukan kebenaran spekulatif. Tujuan utama filsafat Pra-Sokrates adalah menemukan kebenaran ,sedangkan kaum sofis justru pada mengajar. Itulah sebabnya kaum sofis mempunyai massa murid. Mereka memberikan kursus-kursus, dan latihan. Mereka adalah professor yang mengembara dari kota ke kota, mengumpulkan pengetahuan lalu mengajarkan pada orang lain (umpama tentang tata bahasa, interpretasi penyair, filsafat mitologi, agam dll).
Kaum sofis sangat menonjol dalam berpidato, yang merupakan factor sangat penting dalam kehidupan politik di Yunani kala itu. Di Yunani, agar bias berkecimpung dala politik, orang harus pintar berpidato.
Adapun tokoh-tokoh kaum filsuf sofis ialah Protagoras (481-411 SM), Prodicus, Hippias, Gorgias (480-380 atau 483-375 SM), Thrasymachus, Chalderon, dan Anthipon.
·         Socrates
Menurut Plato, ketika dijatuhi hukuman mati, yakni tahun 399 SM, usia Socrates sekitar 70 tahun, berdasarkan itu diduga Sokrates lahir sekitar tahun 470 SM. Ayahnya bernama Sophroniscus seorang pemahat, dan ibunya bernama Phaenarete seorang dukun bersalin.
Sosok Socrates sebagai filsuf moral berawal dari peristiwa yang disebut pertobatan Socrates menyusul Orakel Delphic. Diceritakan bahwa Chaerephon, sobat Socrates, suatu ketika bertanya kepada ahli nujum apakah ada orang lain yang lebih bijaksana dari Socrates.. jawaban yang diberikan adalah “tidak”. Ini membuat Socrates merenung-renung. Dia akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa yang dimaksudkan dewa dengan menyebutnya orang paling bijak adalah karena dia tahu bahwa dia tidak tahu apa-apa. Socrates kemudian melihat misinya yakni untuk mencari kebenaran sejati dan membantu orang yang membutuhkan bimbingannya.
Adapun ajaran-ajaran Socrates adalah sebagai berikut:
1.      Socrates mengajarkan tentang definisi atau hal-hal yang umum (universals) yng bersifat tetap. Menurut Socrates konsep universal tetap sama. Hanya hal-hal partikular dapat beragam, tapi defenisi tetap sama.

2.      Socrates mengajarkan tentang argumen-argumen induktif. Argumen induktif yang dikembangkan Socrates bukan diperoleh melalui logika, melainkan melalui wawancara atau dialektik. Untuk membuat definisi tentang sesuatu, Socrates bertanya pada orang lain, sementara ia sendiri memperlihatkan ketaktahuan. Dialektik Socrates dimulai dari defenisi-definisi kurang lengkap sampai akhrnya mencapai definisi yang lebih lengkap.

3.      Tujuan dialektik bukan untuk mempermalukan orang, tapi untuk memperoleh kebenaran. Kebenaran itu bukan sekedar spekulasi murni, melainkan dalam kehidupan yang baik. Menurut Socrates, agar bertindak dengan benar, orang harus tahu apakah kehidupan yang baik itu. Socrates percaya akan jiwa yang hanya dapat dipelihara semestinya lewat  pengetahuan, yakni kebijaksanaan yang benar. Pengetahuan yang jelas akan kebenaran sangat penting bagi kehidupan yang benar. Untuk ini adalah tugasnya untuk membidani lahirnya ide-ide yang benar dalam bentuk definisi yang jelas. Metode ini dinamakan mayetika.

4.      Socrates menaruh perhatian besar pada etika. Dia menganggap misi yang ditetapkan dewa padanya adalah menyadarkan orang-orang agar memelihara harta paling agung yakni jiwa lewat upaya memperoleh kebijaksanaan dan kabajikan. Kehidupan politikpun tak dapat dilepaskan dari etika.

5.      Etika Socrates memilki ciri pengetahuan dan kebajikan. Menurut dia, pengetahuan dan kebajikan adalah satu, dalam arti bahwa seorang bijaksana, yakni orang yang tahu apa yang baik, juga akan melakukan apa yang benar.

6.      Socrates mengajarkan bahwa hanya ada satu kebajikan, yakni pengetahuan akan apa yang betul-betuk baik bagi manusia, apa yang betul-betul dapat menghasilkan kesehatan dan harmoni jiwa.

7.      Dalam ajaran tentang agama, Socrates mengakui adanya allah-allah, pengetahuan akan allah-allah tidak terbatas. Terkadang Socrates memang percaya akan adanya Allah yang tunggal, tapi nampaknya Socrates tidak memberi perhatian besar untuk masalah monoteisme dan polyteisme. Menurut Socrates sebagaimana tubuh manusia berasal dari bahan-bahan yang dikumpulkan dari dunia materi, akal budinya juga merupakan bagian dari akal budi universal.

·         Plato
Plato adalah salah satu filsuf terbesar di dunia. Lahir di Athena dari keluarga terpandang, ayahnya Arston dan ibunya Perictione. Menurut sejumlah sumber, nama aslinya adalah Aristocles. Nama Plato baru diberikan sesudahnya karena ia memiliki sosok fisik yang kokoh kuat. Plato menjadi murid Socrates ketika ia berusia 20 tahun. Tapi perkenalan Socrates pasti lebih awal. Plato pernah mengunjungi Italia dan Sisilia ketika berusia 40 tahun. Konon ia juga pernah mengunjungi Mesir, tapi cerita ini belum bias diterima oleh sebagian pengamat. Plato pernah dijual sebagai budak kepada Aegina atas perintah Dionysius I, Tiran dari Syracuse.

Adapun ajaran-ajaran terpenting dari Plato adalah:
1.      Dua Dunia
Plato mengajarkan tentang dua dunia, yakni dunia idea dan dunia materi. Dunia idea bersifat tunggal, permanen/tidak berubah, kekal. Dunia jasmani bersifat jamak, berubah-ubah dan tidak kekal.
2.      Jiwa
Jiwa adalah suatu adikodrati, berasal dari dunia idea, tidak dapat mati, kekal. Jiwa terdiri dari tiga bagian (fungsi), yakni rasional (dihubungkan dengan kebijaksaan), kehendak (dihubungkan denag keberanian), dan bagian keinginan atau nafsu (dihubungkan dengan bagian pengendalian diri.
3.      Negara
Ajaran tentang negara merupakan puncak filsafat Plato. Menurut Plato tujuan hidup manusia adalah eudaemonia(hidup yang baik). Agar supaya hidup baik, orang harus mendapatkan pendidikan. Pendidikan itu bukan soal akal semata-mata, tapi seluruh diri manusia. Akal harus mengatur nafsu-nafsu. Akal sendiri tidak berdaya dan harus didukung perasaan-perasaan yang lebih tinggi. Jalan kea rah sini adalah kesenian, sajak, music dan sebagainya. Tujuan pendidikan tercapai kalau ada negara yang baik. Sebab manusia adalah makhluk social yang memerlukan negara.
Dalam satu negara ada tiga golongan, yakni:
a)      Para penjaga, yakni orang bijak (filsuf) yang mengetahui apa yang baik. Kebajikan mereka adalah kebijaksanaan.

b)      Para prajurit yang menjamin keamanan. Kebajikan mereka adalah keberanian.

c)      Rakyat jelata seperti petani, tukang dan pedagang. Kebajikan mereka adalah pengendalian diri.

·         Aristoteles
Aristoteles lahir di Stageira, Yunani Utara. Ayahnya seorang dokter pribadi raja Mcedonia. Ketika berusia 18 tahun ia belejar filsafat p-ada Plato di Athena. Setelah Plato meninggal, ia mendirikan sekolah Assos. Ia kemudian kembali ke Macedonia dan menjadi pendidik pangeran Alexander Agung. Ketika Alexander Agung meninggal pada thun 323, timbullah huru hara. Aristoteles dituduh sebagai penghianat. Dia lari ke Khalkes dan meninggal dunia di situ pada tahun 322.
2.1.1.3  Masa hellenisme dan Romawi
Di masa ini muncul beberapa aliran, terpenting di antaranya adalah:
1)      Stoisisme didirika oleh Zeno dari Kition. Menurut Stoisisme, jagad raya ditentukan oleh logos atau rasio. Maka segala sesuatu yang terjadi di alam semesta berlangsung menurut ketetapan yang tak dapat dihindarkan. Etika Stoisisme bersifat kejam, karena manusia tidak dapat menghindarkan segala malapetaka.

2)      Epikurisme didirikan oleh Epikuros. Inti ajarannya adalah bahwa manusia harus menggunakan kehendak bebas dengan mencari kesenangan sedapat mungkin. Tapi agar keadaan batin seimbang dan tenang, orang harus menjadi bijaksana. Bersikap bijaksana adalah bersikap membatasi diri dan mengusahakan kesenangan rohani.

3)      Skeptisisme dipelopori oleh pyrrho. Tapi ini bukan suatu aliran dengan pengikut-pengikut tertentu, melainkan hanya merupakan tendensi umum dalam masyarakat.

4)      Eklektisisme adalah kecenderungan mendamaikan berbagi unsure yang berbeda. Ini juga merupakan kecenderungan umum pada masyarakat, khususnya kaum elit. Seorang yang dikenal denagn eklektis adalah ahli pidato Cicero dan Philo.

2.2  Filsafat Barat Abad Pertengahan
Abad  pertengahan  merupakan  kurun  waktu  yang  khas. Secara singkat dapat dikatakan bahwa dominansi agama Kristen sangat menonjol. Perkembangan alam  pikiran harus disesuaikan dengan ajaran agama. Demikian pula filsafat, harus diuji apakah tidak bertentangan dengan ajaran agama. Jelas teologi lebih tinggi dibandingkan dengan filsafat. Filsafat berfungsi melayani Teologi. Tapi bukan berarti bahwa pengembangan nalar dilarang.
Dalam sejarah filsafat barat, abad pertengahan dibagi menjadi dua periode yakni masa patristik dan masa skolastik. Baik di Yunani maupun Latin, masa patristik mencatat masa keemasan dengan tokoh dan karya-karya penting. Dibawah ini diuraikan masing-masing tentang Zaman Patristik dan Zaman Skolastik, serta tokoh-tokoh terpentingnya.

2.2.1  MASA PATRISTIK
2.2.1.1 Gambaran Umum
Patristik berasal dari kata Patres (bentuk jamak dari Pater) yang berarti bapak-bapak. Yang dimaksudkan adalah para pujangga gereja dan tokoh-tokoh gereja yang sangat berperan sebagai peletak dasar intelektual kekristenan. Mereka fokus pada pengembangan teologi tetapi tidak lepas dari wilayah kefilsafatan.
2.2.1.2 Tokoh-tokoh terpenting
Bapak Gereja terpenting pada masa itu antara lain Tertullianus (160-222), Justinus, Clemens dari Alexandria (150-251), Origenes (185-254), Gregorius dari Nazianza (330-390), Basilus Agung (330-379), Gregorius dari Nyssa (335-394), Dionysius Areopagita, Johanes Damascenus, Ambrosius, Hyeronimus, dan Agustinus (354-430).
Tertullianus, Justinus, Clemens dari Alexandria, dan Origenes adalah pemikir-pemikir pada masa awal patristik. Gregorius dari Nazianza, Basilus Agung, Gregorius dari Nyssa, Dionysius Areopagita,dan Johanes Damascenus adalah tokoh-tokoh pada masa patristik Yunani. Sedangkan Ambrosius, Hyeronimus, dan Agustinus adalah pemikir-pemikir yang menandai masa keemasan patristik Latin.
Masa keemasan patristik Yunani didorong oleh Edik Milan yang dikeluarkan Kaisar Constatinus Agung tahin 313 yang menjamin kebebasan beragama bagi umat Kristen. Agustinus adalah seorang pujangga gereja dan filsuf besar. Setelah melewati kehidupan masa muda yang hedonistis, Agustinus kemudian memeluk agama Kristen dan menciptakan sebuah tradisi filsafat Kristen yang berpengaruh besar pada abad pertengahan. Karyanya yang terpenting adalah Confessiones (pengakuan-pengakuan) dan De Civitate Dei (tentang kota Allah).
Agustinus menentang aliran skeptisisme (aliran yang meragukan kebenaran). Menurut Agustinus skeptisisme itu sebetulnya merupakan bukti bahwa ada kebenaran. Orang ragu-ragu itu sebenarnya bukti bahwa dia tidak ragu-ragu tehadap satu hal yaitu bahwa ia ragu-ragu. Orang yang ragu-ragu itu sebetulnya berpikir, dan siapa yang harus berpikir harus ada. Aku ragu-ragu maka aku berpikir, aku berpikir maka aku berada. Menurut Agustinus, Allah menciptakan dunia ex nihilo (konsep yang kemudian juga diikuti oleh Thomas Aquinos). Artinya, dalam menciptakan dunia dan isinya, Allah tidak menggunakan bahan. Jadi, berbeda dengan konsep yang diajarkan Plato bahwa me on merupakan dasar atau  materi segala sesuatu.
Filsafat patristik mengalami kemunduran sejak abad V hingga abad VIII. Di barat dan timur tokoh-tokoh dan pemikir-pemikir baru dengan corak pemikiran yang berbeda dengan masa patristik.

2.2.2        MASA SKOLASTIK
2.2.2.1 Gambaran Umum
Nama skolastik menunjukan besarnya peranan sekolah-sekolah dan biara-biara dalam pengembangan pemikiran-pemikiran filsafat. Masa skolastik dimulai setelah filsafat mengalami masa kevakuman karena situasi politik yang tidak stabil.
Sejak pemerintahan Karel Agung (742-814), keadaan mulai pulih, Kegiatan intelektual mulai bersemi kembali. Ilmu pengetahuan, kesenian, dan filsafat mendapat angin segar.
Masa Skolastik mencapai puncak kejayaannya pada abad XIII. Di masa ini filsafat dikaitkan dengan teologi, tetapi sudah menemukan tingkat kemandirian tertentu. Patut diberi catatan khusus tentang penyebaran karya-karya filsafat Yunani, karena inilah faktor terpenting bagi perkembangan intelektual dan filsafat.
Masuknya filsafat Aristoteles ke barat dimungkinkan lewat filsuf-filsuf arab yaitu Ibnu Sina atau Avicenna (980-1037), dan Ibnu Rusyd (1126-1198) alias Averroes. Avicenna berusaha menggabungkan filsafat Aristoteles dan Neoplatonisme sedangkan Averroes merupakan pengagum Aristoteles dan menulis komentar tentang pemikiran-pemikiran Aristotelian. Sebab itu ia dijuluki Sang Komentator.
Kehadiran karya-karya Aristoteles itu memberikan nuansa baru. Orang yang berhadapan dengan karya-karya nonkristen. Tugas filsafat dan teologi adalah mendamaikan alam pikiran baru itu dengan ajaran Kristen, khususnya alam pemikiran Agustinus yang mendominasi masa-masa sebelumnya.



2.2.2.2 Tokoh-tokoh terpenting

Tokoh-tokoh terpenting pada masa skolastik adalah Boethius (480-524), Johanes Scotus Eurigena (810-877), Anselmus dari Canterbury (1033-1109), Petrus Abelardus (1079-1142), Bonaventura (1221-1274), Siger dari Brabant (1240-1281), Albertus Agung (1205-1280), Thomas Aquinos (1225-1274), Johanes Duns Scotus (1226-1308), Guliemus dari Ockham (1285-1349), dan Nicholaus Cusanus (1401-1464).
Boethius adalah seorang menteri pada pemerintahan Raja Theodorik Agung di Italia. Namun, ia dijebloskan ke penjara karena dianggap sebagai komplotan. Dipenjara ia menulis buku yang berjudul De Consolatione Philosophiae.
Johanes Scotus Eurigena mengajar di sekolah istana yang didirikan oleh Karel Agung. Anselmus adalah seorang uskup yang terkenal dengan semboyan Credo Ut Intelligam (saya percaya agar saya mengerti). Artinya, dengan percaya orang akan mendapatkan pemahaman lebih dalam tentang Allah.
Petrus Abelardus mempunyai jasa besar dalam etika dan logika. Dia ikut memberikan pendapat yang sangat berharga menyangkut perdebatan di masa itu tentang Universalia (konsep-konsep umum), antara kelompok penganut Realisme dan Nominalisme.
Ibn Sina (Avicenna) berusaha menggabungkan filsafat Aristoteles dan Neoplatonisme. Dia menganut ajaran manansi plotinos, dan mengatakan Allah menyelenggarakan dunia secara tidak langsung melalui intelek aktif yang berasl dari intelek pertama.
Ibn Rushd (Averroes) ia dijuluki Sang Komentator. Dia mengajarkan monopsikisme yaitu pandangan bahwa jiwa adalah milik bersama umat manusia.
Bonaventura adalah biarawan ordo fransiskan yang menjadi professor di paris, dan pernah dipercaya memimpin ordo tersebut. Siger dari Brabant adalah mahaguru di fakultas sastra diparis.
Albertus Agung adalah seorang biarawan ordo dominikan, dan pernah menjadi mahaguru di sejumlah universitas di Jerman dan Paris.
Thomas Aquinos dijuluki pangeran masa skolastik. Ia adalah seorang biarawan ordo dominikan, mengajar di Paris, Jerman, dan Italia. Thomas Aquinos berpendapat bahwa filsafat harus mengabdi teologi, waktu itu dikenal ungkapan Philosophia Est Ancilla Theologiae.  Manusia dapat mengenal Allah dengan menggunakan rasio. Tetapi, pengenalan itu hanya melalui ciptaan-ciptaan. Thomas membuktikan adanya Allah melalui rangkaian argumentasi yang dikenal dengan Quinqae Viae (Lima Jalan) yaitu
1.      Gejala adanya perubahan atau gerak
2.      Gejala sebab dan akibat
3.       Gejala kontingensi
4.       Adanya hierarki kesempurnaan
5.       Finalitas dunia
Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Jiwa merupakan forma dan tubuh merupakan materinya. Keduannya tidak dapat dipisahkan dan merupakan satu substansi.
Johanes Duns Scotus adalah seorang biarawan ordo fransiskan. Ia mengikuti ajaran Aristoteles dan Bonaventura.
William Ockham adalah seorang biarawan ordo fransiskan. Ia dianggap pemikir bermasalah di gereja, di bidang filsafat ajarannya bercorak empiristis.
Nicholaus Cusanus adalah uskup dan kardinal. Meskipun dipercaya mampu memangku tugas kegerejaan, Nicholaus dikenal sebagai ilmuwan.

2.3  Filsafat Modern
Filsafat klasik bersifat kosmosentris, filsafat abad pertengahan bersifat teosentris, sedangkan filsafat modern bersifat antroposentris. Di zaman Yunani klasik, pusat perhatian filsafat adalah pertanyaan: apa yang merupakan unsur pertama dari kosmos. Pada abad pertengahan Allah diakui sebagai pencipta alam semesta. Sedangkan pada zaman modern, yang menjadi pusat pergulatan filosofis adalah manusia itu sendiri.
2.3.1        RENAISSANCE
Kata ini berasal dari bahasa Prancis dan berarti kelahiran kembali. Maksudnya, usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan Yunani dan  Romawi klasik. Dalam sastra lahirlah humanisme, yang juga mencari inspirasinya pada sastra Yunani dan Romawi. Renaissance ditandai oleh kelahiran kembali di berbagai ilmu, seperti ilmu sastra, kesenian, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan alam berkembang pesat berdasarkan metode eksperimental.
Nicolaus Copernicus, Johannes Kepler, dan Galileo Galilei adalah contoh ilmuwan yang membawakan wawasan baru dengan penemuan-penemuan yang penting. Copernikus, berdasarkan penyelidikannya, mengemukakan bahwa pandangan geosentris yang dianggap benar selama berabad-abad sebelumnya ternyata salah. Menurut Copernicus, bukan bumi yang menjadi pusat, melainkan matahari adalah pusat jagad raya. Galileo Galilei kemudian memperkuat teori Copernikus tentang heliosentrisme.
Di bidang filsafat, peletak dasar filsafat zaman renaissance adalah Francis Bacon (1561-1623), seorang filsuf dari Inggris.
2.3.1.1  FILSAFAT ABAD XVII
Tiga aliran besar filsafat yang muncul dan berkembang pada abad XVII adalah rasionalisme, empirisme, dan idealisme. Berikut dibicarakan tentang ketiga aliran tersebut.
1)       Rasionalisme
Rasionalisme adalah paham yang mengajarkan bahwa sumber pengetahuan satu-satunya yang benar adalah rasio (akal budi). Tokoh-tokoh terpenting aliran rasionalisme adalah Blaise Pascal, Baruch Spinoza, G.W.Leibnitz, Christian Wolff, dan Rene Descartes (1596-1650).
Rene Descartes dijuluki Bapak Filsafat Modern. Ucapannya yang terkenal adalah Coglto Ergo Sum (Aku berpikir maka aku ada). Ungkapan ini mempunyai makna lebih dalam dari sekedar pengertian harafiah. Dengan ungkapan itu hendak dinyatakan metode yang dianut Descartes yakni metode kesangsian. Descartes mengatakan bahwa segalanya harus disangsikan secara radikal, dan tidak boleh diterima begitu saja. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap kesangsian (artinya tidak disangsikan lagi), itulah kebenaran yang sesungguhnya dan harus menjadi fondamen bagi ilmu pengetahuan.
Itulah sebabnya Cogito Ergo Sum harus diartikan sebagai: saya yang sedang sangsi, ada. Bagi Descartes, berpikir berarti menyadari. Jika saya menyangsikan, maka saya menyadari sungguh-sungguh bahwa saya menyangsikan. Kebenaran itu pasti sebab saya mengerti dengan jelas dan terpilah-pilah (c/ear/y and dis- tinctly).
Menurut Descartes, dalam diri manusia terdapat tiga ide bawaan sejak lahir, dan itulah yang merupakan kebenaran. Ketiga ide bawaan itu adalah pikiran, Allah, dan keluasan.
Mengapa pikiran? Karena kalau saya memahami diri sebagai makluk yang berpikir, maka hakekat saya adalah pemikiran. Mengapa Allah? Kalau saya mempunyai idea "sempurna", harus ada penyebab sempurna idea itu, karena akibat tidak pernah melebihi penyebabnya.
Dan mengapa pula keluasan? Karena saya mengerti materi sebagai keluasan (ekstensi).
Satu-satunya alasan untuk menerima dunia materi adalah bahwa Allah akan menipuku jika Ia memberikan idea keluasan padahal tidak ada suatu pun yang mempunyai luas. Tapi, menurut pengamatan, di luarku ada dunia materi. Jadi, Allah itu ada.
Menurut Descartes, manusia terdiri dari jiwa (pemikiran) dan tubuh (keluasan). Tubuh adalah mesin yang dijalankan jiwa. Dengan pandangan seperti ini, Descartes mengakui dualisme dalam manusia.

2)      Empirisme
Empirisme adalah aliran yang mengajarkan bahwa hanya pengalaman (lewat indra) merupakan sumber pengetahuan yang benar. Jadi, empirisme bertolak belakang dengan pandangan rasionalisme. Immanuel Kant kemudian mendamaikan kedua pandangan yang sangat ekstrim tersebut.
Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah Thomas Hobbes dan John Locke, keduanya dari Inggris.
2.3.1.2  FILSAFAT ABAD XVIII (AUFKLAERUNG)
Aufklaerung berarti pencerahan (istilah bahasa Inggris untuk ini adalah enlightment). Dinamakan demikian karena pada periode ini manusia mencari cahaya baru dalam rasionya. Keadaan periode sebelum ini sering diumpamakan dengan keadaan belum akil balig, di mana manusia kurang menggunakan kemampuan akal budinya.
Salah satu ciri terpenting zaman Aufklaerung adalah perkembangan pesat ilmu pengetahuan. Dalam fisika kita kenal ilmuwan besar seperti Isaac Newton.Karena rasio mendapat tempat terhormat dan menjadi pusat perhatian, maka orang mulai meragukan wahyu dan otoritas agama. Mudah dimengerti, mengapa di Prancis muncul sikap antikristianisme dan antiklerikalisme.  gama kristen, sebelum periode ini, memainkan peranan sangat menentukan.
Akal budi tidak diingkari, tetapi diletakkan pada fungsinya sebagai pendukungiman dan wahyu. Penjelasan apapun yang tidak sesuai dengan iman dianggap  tidak benar.
Tempat para klerus dalam lingkungan yang memberi tempat penting  kepada agama memang sangat istimewa. Oleh sebab itu, pada masa pencerahan, orang tak mau tunduk lagi kepada otoritas agama. Mulai berkembang pemikiran. pemikiran bebas. Aufklaerung merintis jalan menuju revolusi Prancis tahun 1789.
Tokoh-tokoh terpenting filsafat masa pencerahan antara lain George Berkeley dan David Hume (Inggris), Voltaire dan Jean-Jacques Rousseau (Prancis), dan Immanuel Kant (Jerman). Filsuf paling penting untuk periode ini adalah Immanuel Kant.
Seperti dikatakan di atas, Kant berusaha mendamaikan pandangan rasionalisme dan empirisme. Menurut Kant, peran rasio dan pengalaman sama pentingnya dalam proses mengetahui. Pengalaman indra dinamakannya unsur aposteriori, sedangkan akal budi dinamakannya unsur apriori. Kant berpendapat bahwa pengetahuan selalu merupakan hasil sintese unsur akal budi dan pengalaman. Akal budi sendiri tidak dapat dipercaya begitu saja, demikian pula pengalaman indera. Kita mengalami bahwa indra banyak kali menipu. Kita melihat mentari sebagai sebuah benda langit bercahaya yang kecil, padahal dalam kenyataannya matahari adalah badan angkasa yang sangat besar. Oleh sebab itu hasil pengamatan indra harus diteguhkan oleh akal budi.

2.3.1.3  FILSAFAT ABAD XIX
Aliran-aliran besar yang muncul sepanjang abad XIX adalah idealisme Jerman, positivisme, dan materialisme. Berikut diuraikan secara singkat aliran- aliran tersebut serta sejumlah tokohnya.
1)      Idealisme Jerman
Idealisme adalah aliran yang berpandangan bahwa tidak ada realitas obyektif dari dirinya sendiri. Realitas seluruhnya, menurut aliran ini, bersifat subyektif.Seluruh realitas merupakan hasil aktivitas Subyek Absolut (yang dalam agama dinamakan Allah).
Jadi, menurut idealisme rasio atau roh (idea) mengendalikan realitas seluruhnya. Segala sesuatu merupakan tampakan-tampakan atau momen-momen yang berkembang sendiri. Idealisme pada dasarnya bertentangan dengan Platonisme.
Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah tiga filsuf Jerman yakni J.G.Fichte ( 1762- 1814), F.W J.Schelling ( 1775- 1854), dan G.W.F. Hegel (1770-1831). Filsuf paling penting di antara ketiganya adalah Hegel.
2)      Positivisme
Aliran ini berpandangan bahwa manusia tidak pernah mengetahui lebih dari fakta-fakta, atau apa yang nampak. Manusia tidak pernah mengetahui sesuatu di balik fakta-fakta.
Oleh sebab itu, menurut positivisme, tugas ilmu pengetahuan dan filsafat adalah menyelidiki fakta-fakta, bukan menyelidiki sebab-sebab terdalam realitas. Dengan demikian, positivisme menolak metafisika.
Positivisme mempunyai persamaan dan perbedaan dengan empirisme.Persamaan pada keduanya adalah bahwa keduanya mengutamakan pengalaman indra. Akan tetapi positivisme hanya menerima pengalaman obyektif, sedangkan empirisme menerima juga pengalaman batiniah/subyektif.
Tokoh-tokoh terpenting positivisme antara lain Auguste Comte (1798-1857), John Stuart Mill (1806-1873), dan Herbert Spencer (1820-1903).
3)      Materialisme
Aliran ini berpandangan bahwa seluruh realitas terdiri dari materi. Artinya, tiap benda atau peristiwa dapat dijabarkan kepada materi atau salah satu proses materiil. Materialisme merupakan aliran terpenting dan sangat berpengaruh sepanjang abad XIX, bahkan sampai dewasa ini. Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap idealisme Jerman.
Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah Ludwig Feuerbach (1804-1872), Kari Marx (1818-1883), dan Friedrich Engels (1820-1895).
Pikiran-pikiran Kari Marx sering muncul dalam nama materialisme dialektis dan materialisme historis. Nama-nama itu bukan berasal dari Mara sendiri.Materialisme historis digunakan oleh Engels sesudah kematian Marx. Sedangkan materialisme dialektis digunakan tahun 1891 oleh filsuf Russia, G.Plekhanov.
Materialisme dialektis beranggapan bahwa perubahan kuantitas dapat mengakibatkan perubahan kualitas. Perapatan materi dapat menghasilkan suatu yang sama sekali baru. Dengan cara demikian, kehidupan berasal dari materi mati, dan kesadaran manusia berasal dari kehidupan organis. Materialisme historis berpandangan bahwa arah yang ditempuh sejarah ditentukan oleh perkembangan sarana-sarana produksi materiil. Menurut Mara, titik akhir sejarah adalah keadaan ekonomi tertentu, yakni komunisme, di mana milik pribadi diganti milik bersama. Baru pada kondisi seperti itulah manusia mencapai kebahagiaannya. Arah ini adalah suatu keharusan, suatu yang mutlak, tak dapat diubah dengan cara apapun. Dan manusia dapat mempercepat proses itu dengan melakukan revolusi.
2.4  FILSAFAT  KONTEMPORER
Filsafat Barat kontemporer (abad XX) sangat heterogen. Hal ini disebabkan  antara lain karena profesionalisme yang semakin besar. Banyak filsuf adalah spesialis bidang khusus seperti matematika, fisika, psikologi, sosiologi, atau ekonomi.
Hal penting yang patut dicatat adalah bahwa pada abad XX pemikiran- pemikiran lama dihidupkan kembali. Misalnya, Neotomisme, Neokantianisme, Neopositivisme, dan sebagainya. Di masa ini Prancis, Inggris, dan Jerman tetap merupakan negara-negara yang paling depan dalam filsafat. Umumnya, orang membagikan filsafat pada periode ini menjadi filsafat kontinental (Prancis dan Jerman); dan filsafat Anglosakson (Inggris).

Aliran-aliran terpenting yang berkembang dan berpengaruh pada abad XX adalah pragmatisme, vitalisme, fenomenologi, eksistensialisme, filsafat analitis (filsafat bahasa), strukturalisme, dan postmodernisme.
2.4.1        PRAGMATISME
Pragmatisme mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang akibat- akibatnya bermanfat secara praktis. Jadi, patokan pragmatisme adalah manfaat bagi kehidupan praktis. Kebenaran mistis diterima, asal bermanfaat praktis. Pengalaman pribadi yang benar adalah pengalaman yang bermanfaat praktis. Aliran ini sangat populer di Amerika Serikat. Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952).
2.4.2        VITALISME
Vitalisme berpandangan bahwa kegiatan organisme hidup digerakkan oleh daya atau prinsip vital yang berbeda dengan daya-daya fisik. Aliran ini timbul sebagai reaksi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi serta industrialisasi, di mana segala sesuatu dapat dianalisa secara matematis. Tokoh terpenting vitalisme adalah filsuf Prancis, Henri Bergson (1859- 1941).
2.4.3        FENOMENOLOGI
Fenomenologi berasal dari kata fenomenon yang berarti gejala atau apa yang tampak. Jadi, fenomenologi adalah aliran yang membicarakan fenomena atau segalanya sejauh mereka tampak. Fenomenologi dirintis oleh Edmund HusserI (1859-1938). Seorang fenomenolog lainnya adalah Max Scheler (1874 - 1928).

2.4.4        EKSISTENSIALISME
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi. Eksistensi adalah cara berada di dunia. Cara berada manusia di dunia berbeda dengan cara berada makluk-makluk lain. Benda mati dan hewan tidak menyadari keberadaannya, tapi manusia sadar bahwa dia berada di dunia. Manusia sadar bahwa ia bereksistensi. Itulah sebabnya, segalanya mempunyai arti sejauh berkaitan dengan manusia. Dengan kata lain, manusia memberi arti kepada segalanya. Manusia menentukan perbuatannya sendiri. Ia memahami diri sebagai pribadi yang bereksistensi.
Jadi, eksistensialisme berpandangan bahwa pada manusia eksistensi mendahului esensi (hakekat), sebaliknya pada benda-benda lain esensi mendahului eksistensi. Manusia berada lalu menentukan diri sendiri menurut proyeksinya sendiri. Hidupnya tidak ditentukan lebih dulu. Sebaliknya, benda- benda lain bertindak menurut esensi atau kodrat yang memang tak dapat dielakkan.
Tokoh-tokoh terpenting eksistensialisme adalah Martin Heidegger (1883- 1976), Jean-Paul Sartre (1905-1980), Kari Jaspers (1883-1969), dan Gabriel Marcel (1889-1973). Soren Kierkegaard (1813-1855), Friedrich Nietzsche (1844- 1900), Nicolas Alexandrovitch Berdyaev (1874-1948) juga sering dimasukkan ke dalam kelompok filsuf-filsuf eksistensialis.
Patut dicatat bahwa sebetulnya di antara para filsuf eksistensialis terdapat perbedaan. Sebagian mereka bahkan tidak mau dikelompokkan sebagai filsuf eksistensialis. Akan tetapi mereka semua mempunyai kesamaan pandangan bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkret, manusia yang bereksistensi. Dalam kaitan dengan ini mereka berpendapat bahwa pada manusia eksistensi mendahului esensi (Fuad Hassan, 1985: 7-8).  Sebagian filsuf eksistensialis adalah ateis, seperti Jean-Paul Sartre, tetapi ada yang tetap mengakui Allah, seperti Gabriel Marcel.
Jean-Paul Sartre adalah satu-satunya filsuf kontemporer yang menempatkan kebebasan pada titik yang sangat ekstrim. Dia berpendapat bahwa manusia itu bebas atau sama sekali tidak bebas. Tentang kebebasan, Sartre mengatakan: "Manusia bebas. Manusia adalah kebebasan." Dalam sejarah filsafat tidak pernah ada ungkapan begitu ekstrim tentang kebebasan. Sartre tidak memandang kebebasan sebagai salah satu ciri manusia, tapi menganggap manusia sebagai kebebasan. Ini ada kaitan dengan pandanganaya tentang eksistensi (cara berada). Sartre membedakan dua macam cara berada, yakni etre-en-soi (berada dalam diri sendiri) dan etre-pour-soi (berada untuk diri). Etre-en-soi adalah cara berada yang deterministik. Itu merupakan cara berada benda-benda mati, hewan, dan tumbuhan. Pohon, misalnya, tumbuh sebagai pohon jenis tertentu, dengan bakat tertentu. Sampai kapan dan di manapun pohon itu akan tetap yang sama, tidak akan meninggalkan kodrat. Batu, dari kodratnya telah ditentukan sebagai benda yang keras, dan sebab itu ia akan tetap seperti itu sampai kapanpun. Jadi, cara berada ini sudah ditentukan kodrat. Sebaliknya, Etre-pour-soi adalah cara berada khas manusia. Artinya, manusia ada dulu baru menentukan diri sendiri. Dirinya tidak pernah ditentukan lebih dulu. Manusia ada begitu saja, dan baru sesudah itu manusia menentukan apa yang harus dilakukannya. Hanya manusia dapat mengatakan "tidak", benda- benda lain selalu berada menurut esensi atau kodrat yang telah ditentukan. Karena tidak ditentukan sebelumnya, maka manusia bertanggungjawab terhadap keberadaannya.
Konsep kebebasan seperti ini membawa Sartre kepada penolakan akan adanya Allah. Menurut Sartre, jika ada Allah maka manusia tidak bebas lagi, sebab Allah sudah menentukan esensi manusia. Pisau yang dibuat tukang, kata Sartre, sudah ada dalam konsep tukang yang membuatnya sebelum pisau itu hadir dalam bentuk tertentu. Dalam pikirannya, tukang sudah memikirkan bahwa
pisau itu terbuat dari baja atau besi, tajam, berujung runcing, diberi gagang tanduk rusa, digunakan untuk memotong daging atau mencukur rambut, dan ciri-ciri lainnya. Itulah esensi pisau yang sudah ada di kepala tukang sebelum pisau itu betul-betul hadir dalam wujudnya yang tertentu.
Kalau ada Allah, kata Sartre, maka Allah pasti sudah mengetahui esensi manusia. Itu berarti, manusia tidak bebas lagi. Manusia akan melakukan apa yang sudah ditentukan Allah itu. Tapi itu tidak mungkin sebab pada manusia eksistensi mendahului esensi. Sebab itu tidak ada Allah.
Menurut Sartre, manusia tidak mempunyai kodrat. Ia ada begitu saja, baru sesudahnya ia membuat kodratnya sendiri. Mengapa? Karena memang tidak ada Allah yang mengkonsepkan kodrat itu.
Manusia tidak mempunyai kewajiban terhadap suatu yang lain, kecuali dirinya sendiri. Seandainya Allah ada, manusia kehilangan martabat manusianya. Maka mustahil bahwa Allah dan manusia ada berdampingan. Manusia yang hanya merupakan alat di tangan Allah, kata Sartre, bukan manusia bebas.
Dalam bukunya Existentialism and Humanism Sartre memberikan tanggapan kepada orang-orang yang mengatakan bahwa eksistensialisme adalah ateisme. Sartre mengatakan bahwa eksistensialisme sama sekali bukan ateisme yang menolak adanya Allah. Seandainya Allah ada, itu samasekali tidak bakal mengubah apa-apa, kata Sartre.
2.4.5        FILSAFAT ANALITIS
Aliran ini muncul di Inggris dan Amerika Serikat sejak sekitar tahun 1950. Filsafat analitis disebut juga filsafat bahasa. Filsafat ini merupakan reaksi terhadap idealisme, khususnya Neohegelianisme di lnggris.Para penganutnya menyibukkan diri dengan analisa bahasa dan konsep-konsep.Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah Bertrand Russel, Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Gilbert Ryle, dan John Langshaw Austin.
2.4.6        STRUKTURALISME
Strukturalisme muncul di Prancis tahun 1960, dan dikenal pula dalam linguistik, psikiatri, dan sosiologi. Strukturalisme pada dasarnya menegaskan bahwa masyarakat dan kebudayaan memiliki struktur yang sama dan tetap. Maka kaum strukturalis menyibukkan diri dengan menyelidiki struktur-struktur tersebut. Tokoh-tokoh terpenting strukturalisme adalah Levi Strauss, Jacques Lacan, dan Michel Foucoult.
2.4.7        POSTMODERNISME
Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap modernisme dengan segala dampaknya. Seperti diketahui, modernisme dimulai oleh Rene Descartes, dikokohkan oleh zaman pencerahan (Aufklaerung), dan kemudian mengabadikan diri melalui dominasi sains dan kapitalisme. Tokoh yang dianggap memperkenalkan istilah postmodern (isme) adalah Francois Lyotard, lewat bukunya The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1984).
Modernisme mempunyai gambaran dunia sendiri yang ternyata melahirkan berbagai dampak buruk, yakni Pertama, obyektifikasi alam secara berlebihan dan pengurasan alam semena-mena yang mengakibatkan krisis ekologi. Dampak ini disebabkan oleh pandangan dualistiknya yang membagi kenyataan menjadi subyek-obyek, spiritual-material, manusia-dunia, dsb. Kedua, manusia cenderung menjadi obyek karena pandangan modern yang obyektivistis dan positivistis. Ketiga, ilmu-ilmu positif-empiris menjadi standar kebenaran tertinggi. Keempat, materialisme. Kelima, militerisme. Keenam, kebangkitan kembali tribalisme (mentalitas yang mengunggulkan kelompok sendiri.
Istilah postmodern di luar bidang filsafat muncul lebih dulu. Rudolf Pannwitz, dalam bukunya tentang krisis kebudayaan Eropa tahun 1947 menggunakan istilah manusia postmodern yang ciri-cirinya sehat, kuat, nasionalistis, religius, yang muncul dari nihilisme dan dekadensi nihilisme Eropa. Ia merupakan cermin kemenangan atas kekacauan yang menjadi ciri khas modernitas.
Dalam perspektif filosofis istilah postmodern baru digunakan tahun 1979, dan bukan didorong oleh postmodern di Eropa yang berlatarbelakang arsitektur, melainkan dirangsang oleh diskusi tentang problem sosiologis masyarakat postindustri di Amerika Utara. Dalam konteks ini Jean-Francois Lyotard membuat laporan untuk Dewan Universitas Quebec tentang perubahan-perubahan di bidang pengetahuan pada masyarakat industri maju karena kemajuan teknologi informasi baru. Laporan itu terbit dalam bukunya yang disebut di atas tahun 1979. Laporan inilah yang menjadi titik tolak diskusi-diskusi filosofis tentang postmodernisme (Jurnal Filsafat, 1990: 9-10).
Ciri-ciri terpenting postmodernisme adalah (1) relativisme, dan (2) mengakui pluralitas. Pada modernisme, pengetahuan merupakan suatu kesatuan yang didasarkan pada cerita-cerita besar (grand narratives) yang menjadi ide penuntun sampai ke penelitian-penelitian paling mendetil. Tapi postmodernisme merelatifkan semuanya. Menurut para postmodernis, tidak ada suatu norma yang berlaku umum. Tiap bagian mempunyai keunikan sehingga tak dapat menerima pemaksaan ke arah penyeragaman. Dengan demikian, postmodernisme mengakui pluralitas dan hak hidup individu atau unsur lokal (Sugiharto: 1996, 30-33)
Tokoh-tokoh postmodernisme terpenting, selain Lyotard, adalah Jacques Derrida, Richard Rorty, dan Michel Foucoult.






 BAB III 
PENUTUP

3.1  KESIMPULAN
          Dalam perkmbangannya filsafat dibagi menjadi 4 babakan yakni Filsafat klasik meliputi filsafat Yunani dan Romawi pada abad ke-6 SM dan berakhir pada 529 M dominasi oleh rasionalisme. Filsafat abad pertengahan meliputi pemikiran Boethius sampai Nicolaus pada abad ke-6 M dan berakhir pada abad ke-15 M didominasi dengan doktrin-doktrin agama Kristen. Filsafat modern dan filsafat kontemporer yang didominasi kritik terhadap filsafat modern.

3.2  SARAN
            Setelah membaca makalah mengenai sejarah filsafat berdasarkan kurun waktu, diharapkan untuk tidak pernah puas terhadap makalah yang telah dibuat, karena filsafat memiliki cakupan yang sangat luas, untuk itu pembaca hendak mencari sumber lain.




DAFTAR PUSTAKA
Maksum, Ali. 2011.PENGANTAR FILSAFAT:Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme. Jogjakarta :Ar-Ruzz Media


jika ingin power point untuk materi diatas dapat diunduh melalui link dibawah ini

Download Power Point Filsafat Zaman Klasik-Kontemporer

Comments

Popular posts from this blog

Sarana Berpikir Ilmiah

Cabang - Cabang Filsafat (Pembagian Filsafat)